<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>LPMP Propinsi NTT sahabat Guru</title>
	<link>http://masmin.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 01:46:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Penelitian Tindakan Sekolah</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah-2/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 01:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah-2/</guid>
		<description><![CDATA[	Tujuan PTS : memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah.Sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.bagaimana melakukan PTS :Harus ada tindakan (action) yang nyata.Tindakan itu dilakukan pada situasi alami dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis.Tindakan merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><span><font>Tujuan PTS : memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah.<br />Sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.<br />bagaimana melakukan PTS :<br />Harus ada tindakan (action) yang nyata.<br />Tindakan itu dilakukan pada situasi alami dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis.<br />Tindakan merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.<br />dilakukan dalam rangkaian siklus kegiatan.<br />menuntut etika :<br />a)tidak mengganggu proses pembelajaran kegiatan pendidikan yang berjalan di sekolah<br />b)jangan menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dll). <br />c)masalah yang dikaji harus benar-benar ada dan dihadapi oleh pengawas sekolah.,<br />d)dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll).</p>
	<p>PTS terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang.<br />(a)perencanaan,<br />(b)tindakan,<br />(c)pengamatan,<br />(d) refleksi </font></span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 01:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[	Dalam rangka persiapan membantu Pengawas untuk melalukan kegiatan pengembangan prestasi melalui penulisan karya tulis ilmiah, LPMP Provinsi NTT akan menyalurkan dana block grant Penelitian Tindakan Sekolah bagi Pengawas. Sasaran program ini adalah pengawas Dikdas (SD dan SMP) serta Dikmen (SMA/SMA) dengan alokasi sebanyan 35 orang (18 Dikdas dan 25 Dikmen). 
	Selanjutnya untuk realisasi program diberitahukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font>Dalam rangka persiapan membantu Pengawas untuk melalukan kegiatan pengembangan prestasi melalui penulisan karya tulis ilmiah, LPMP Provinsi NTT akan menyalurkan dana block grant Penelitian Tindakan Sekolah bagi Pengawas. Sasaran program ini adalah pengawas Dikdas (SD dan SMP) serta Dikmen (SMA/SMA) dengan alokasi sebanyan 35 orang (18 Dikdas dan 25 Dikmen). </font></p>
	<p><font>Selanjutnya untuk realisasi program diberitahukan bahwa LPMP NTT akan menyelenggarakan sosialisasi PTS bagi pengawas calon penerima Blockgrant PTS yang akan dilaksanakan pada tanggal 17-18 September 2008. Peserta yang diharapkan hadir pada kegiatan sosialisasi ini adalah para Kadis, Kasubdin dan Korwas. </font></p>
	<p><font>(Mengapa Kadis dan Kasubdin juga?) Karena pada kesempatan ini akan disosialisasikan juga program block grant yang lain yaitu: 1) Block grant KKG, MGMP, MKKS/K3S; 2) Block grant Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru; 3) Bantuan KTI On line bagi guru gol IV/a; 4) Blog Grant ICT bagi KKG/MGMP dari Intel Education kerjasama LPMP NTT dengan Poltek Negeri Kupang. </font></p>
<span><font>Undangan akan segera dikirimkan Dinas Pendidikan ke kab/kota. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Seksi Pemetaan Mutu dan Supervisi LPMP NTT No. Telp. : (0380)821149, 822910. Contac person koordinator pembimbing : Minhajul Ngabidin (Hp. 08159814536, email : </font><a href="mailto:min_lpmpntt@yahoo.co.id"><font>min_lpmpntt@yahoo.co.id</font></a><font></font><font> ) atau Ola Sanga Yohanes (Hp. 081339407011).<br /></font></span><font></font><font><span>Kembali ke Block Grant PTS, ya! Block grant yang akan diberikan s</span><span>ebesar Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah), dengan ketentuan penggunaan Rp. 2.000.000,- untuk pengawas dan Rp. 1.500.000,- untuk pembimbing. (Ini Juknis yang ditetapkan oleh Pusat dan akan tertang dalam MoU). Pembimbing telah dipersiapkan dari tenaga dosen LPTK (Undana &ndash; FKIP) dan tenaga fungsional LPMP (Widyaiswara) yang telah diseleksi dan mengikuti ToT Pembimbingan PTS di Jakarta.<br /></span></font><span><font></font><font>Untuk kegiatan PTS, jangan kaget ya! Waktunya hanya 1 bulan, dan pada tanggal 20 an Oktober laboran sudah harus masuk ke LPMP, karena akan diseleksi dan 3 besar dari masing-masing (Dikdas dan Dikmen) makalahnya harus segera dikrim ke DitTendik Ditjen PMPTK Jakarta, dan mereka akan diundang untuk mempresentasikan hasil karya dalam event lomba yang digelar dalam bentuk simposium pengawas pada awal Nopember. Bagi yang menang, tentu dapat hadiah dong&hellip;!<br /></font></span><span><font></font><font>Demikian pemberitahuan ini, atas perhatian dan kerjasama yang baik kami sampaikan terima kasih.</font></span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/09/15/penelitian-tindakan-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/07/01/peningkatan-profesionalisme-guru-melalui-lesson-study/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/07/01/peningkatan-profesionalisme-guru-melalui-lesson-study/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 01:32:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/07/01/peningkatan-profesionalisme-guru-melalui-lesson-study/</guid>
		<description><![CDATA[	A.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lesson StudyLesson Study telah dipilih dan diterapkan di beberapa negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan, teknik, atau metode yang dapat diandalkan. Ternyata pendekatan ini dapat meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan guru serta meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Mengingat manfaat pendekatan ini yang demikian bagus, maka kita perlu juga berupaya, memikirkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong></strong><strong>A.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Lesson Study<br /></strong><strong></strong><em>Lesson Study</em> telah dipilih dan diterapkan di beberapa negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan, teknik, atau metode yang dapat diandalkan. <span>Ternyata pendekatan ini dapat meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan guru serta meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Mengingat manfaat pendekatan ini yang demikian bagus, maka kita perlu juga berupaya, memikirkan, dan mencoba menerapkannya pada sekolah di negeri kita ini. <br /></span><strong></strong><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </em><em>Lesson study </em>&nbsp;diartikan sebagai program <em>in-service training</em> guru yang dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. <em>Lesson study </em>dilakukan di dalam kelas dengan tujuan untuk memahami siswa dengan lebih baik dan dilakukan secara bersama-sama dengan guru lain (Rahayu. 2006).<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Lesson study</em> merupakan salah satu strategi pengembangan profesional guru. Kelompok guru mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama dan menentukan salah satu guru untuk melaksanakan pembelajaran tersebut, sedangkan guru lainnya mengamati belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru tersebut berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi (Richardson, 2004). <br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Lesson study</em> adalah kegiatan bersama&nbsp; yang melibatkan sejumlah guru, pakar terkait(dalam konteks kegiatan ini adalah dosen) dan pihak lain yang relevan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang efektif melalui rangkaian siklus <em>Planning-Doing-Seeing. Planning</em> merupakan kegiatan merencanakan pembelajaran yang akan diimplementasikan di kelas pembelajaran. Termasuk dalam tahap ini adalah membuat kesepakatan seorang guru yang diberi tugas mengimplementasikan rancangan pembelajaran, penentuan fokus pengamatan observer (<em>research lesson)</em> pembagian tugas observer pada saat <em>Do-See</em>, penentuan moderator dan notulen pada saat refleksi. <em>Doing</em> merupakan kegiatan mengimplementasikan rancangan pembelajaran yang dihasilkan pada tahap <em>planning</em> di kelas pembelajaran oleh seorang guru yang ditunjuk. <em>Seeing</em> merupakan kegiatan mengamati proses pembelajaran oleh guru lain (observer). Pengamatan dilakukan oleh seluruh anggota kelompok (guru yang tidak bertugas mengajar, dosen dan pihak lain yang terlibat dalam kegiatan <em>planning</em>). Fokus pengamatan kegiatan ini adalah perilaku siswa (aktivitas, sikap dan cara berpikir siswa) selama pembelajaran. Refleksi dilakukan dengan tanya jawab atau diskusi untuk membahas kekurangan dalam mengimpelemtasikan rancangan pembelajaran yang dihasilkan pada tahap <em>planning</em> yang ditemukan selama pengamatan. Meskipun fokus pengamatan dilakukan pada perilaku siswa, hasil refleksi merupakan perbaikan terhadap cara guru untuk membelajarkan siswa.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Lesson study</em> merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan <em>&ldquo;research lessons,&rdquo;</em> dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut (Lewis, 2002:1). Gambar 2. 1 menunjukkan siklus dalam <em>lesson study.<br /></em><em></em><br />&nbsp;*) Disampaikan pada Workshop MGMP Kimia Kota Kupang di PSBB MAN Model Kupang ( 19 &ndash; 20 Nopember 2007)<br />**) Minhajul Ngabidin dan Stefanus Jelau, adalah widyaiswara pada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Propinsi NTT.<br /><em></em><em>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</em><font><em><span>Lesson study</span></em><span> yang di dalam bahasa Jepang disebut <em>jugyokenkyu</em> adalah bentuk kegiatan yang di lakukan oleh guru / sekelompok guru yang bekerjasama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama, guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainnya) merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian diobservasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan pembelajaran yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran di mana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan, kapan siswa mendapatkan pengetahuanya dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas dll. Diskusi pada saat refleksi yang mengkritik penampilan guru sejauh mungkin dihindari, dikarenakan hal tersebut tidak mempunyai manfaat bagi kesinambungan kegiatan <em>lesson study</em>.<br /></span></font><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span>Untuk dapat memulai kegiatan <em>lesson study</em> maka diperlukan perubahan dari dalam diri guru sehingga memiliki sikap sebagai berikut:<br /><font>1. </font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semangat&nbsp; introspeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pertanyaan seperti: Apakah saya sudah melakukan tugas mendidik dengan baik? Apakah saya sudah melakukan tugas seoptimal mungkin? Adalah merupakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. <span>Jawaban tersebut tentu akan mendorong pada proses pencarian cara untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan atas jawaban tersebut.<br /></span><font>2. </font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>Keberanian membuka diri untuk dapat menerima saran dari orang lain untuk peningkatan kualitas diri.<br /></span><font>3. </font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>Keberanian untuk&nbsp; mengakui kesalahan diri sendiri.<br /></span><font>4. </font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keberanian mengakui dan memakai ide orang lain yang&nbsp; baik<br /><font>5. </font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>Keberanian memberikan masukan yang jujur dan penuh penghormatan<br /></span><span>Kelima sikap tersebut menjadi persyaratan yang harus dipahami dan mulai dipertajam sebelum kita melakukan kegiatan <em>lesson study</em>.&nbsp; Selain sikap dasar yang harus disiapkan oleh guru tersebut, maka juga sangat penting peranan dari berbagai komponen yang terkait dalam bidang pendidikan: pengelola sekolah, MGMP, kantor dinas pendidikan, universitas, dan para pemerhati pendidikan pada komitmen nyata dalam mendukung kegiatan <em>lesson study</em>. <br /></span><strong><span>Tahapan Pelaksanaan <em>Lesson Study</em><br /></span></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada dasarnya <em>lesson study</em> dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain: 1) membentuk group <em>lesson study</em>&nbsp; misalnya guru dalam satu rumpun di sekolah,&nbsp; MGMP di kota /kabupaten atau guru seorang diri (tidak harus membuat kelompok) 2) menentukan fokus kajian dari <em>lesson study</em>, 3) merencanakan <em>research lesson </em>4) mengajar dan guru/anggota group&nbsp; lain mengamati pembelajaran 5) mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi dan 6) refleksi dan penyempurnaan untuk kegiatan berikutnya. Kegiatan <em>lesson study</em> secara sederhana dapat disingkat menjadi kegiatan Plan, Do-See dan Reflection. <br /></span><strong><span>Membentuk group <em>lesson study</em><br /></span></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Paling tidak ada empat kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan group. Kegiatan tersebut antara lain adalah: 1) merekrut anggota, yang bisa berasal dari guru satu mata pelajaran atau lain, satu tingkat kelas, pengawas dari diknas, pemerhati pendidikan, atau dosen, 2) menyusun komitmen waktu, untuk pertemuan rutin merancang, melaksanakan, mengamati dan merefleksi <em>lesson study</em>, 3) menyusun jadwal pertemuan, 4) menyetujui aturan di dalam&nbsp; group.<br /></span><strong><span>Menentukan fokus <em>Lesson study</em><br /></span></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tahapan yang dilakukan untuk menentukan fokus <em>lesson study</em> antara lain adalah: 1) menyepakati tema penelitian,2) menentukan mata pelajaran (kalau anggota group guru lintas mata pelajaran), 3) menentukan satuan (unit) pelajaran.<br /></span><strong></strong><strong><span>Merencanakan Research lesson<br /></span></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di dalam merencanakan research lesson, tentu kita senantiasa berpedoman pada fokus yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan mendiskripsikan&nbsp; tema penelitian kemudian mengintegrasikan dalam lesson plan tentu akan diperoleh kegiatan <em>research lesson </em>yang diharapkan. Untuk memandu penyusunan perencanaan <em>research lesson </em>, pertanyaan berikut ini bisa menjadi acuan:<br /></span><font>1) </font>&nbsp;<span>apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?<br /></span><font>2) </font>&nbsp;<span>apa yang kita harapkan dikuasai siswa pada akhir pelajaran?<br /></span><font>3) </font>&nbsp;<span>apa saja rangkaian pertanyaan dan atau pengalaman belajar siswa yang akan mendorong siswa memperoleh pengetahuan yeng lebih lanjut?<br /></span><font>4) </font>&nbsp;<span>kegiatan apa yang mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?<br /></span><font>5) </font>&nbsp;<span>Apa bukti tentang hasil belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan untuk data diskusi pada saat refleksi dan bagaimana instrumen pengumpulnya?<br /></span><span>Pembuatan instrumen pengumpul data yang digunakan pada saaat reseach lesson menjadi sangat penting. Keberadaan instrumen pengumpul data yang berupa format isian tentang: denah tempat duduk siswa, anggota kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek&nbsp; untuk mencatat hal-hal penting yang dilakukan siswa misalnya partisipasi siswa dalam diskusi, sangat mendukung ketersediaan data yang akan dijadikan dasar di dalam kegiatan diskusi setelah pembelajaran selesai diamati. <br /></span><br />
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0">
<tr>
<td>
<div>
<p align="center"><strong><font>2. Research Lesson<br /></font></strong></p>
<font>Salah satu guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan desain yang telah disusun, sedangkan guru lain mengamati dan mengumpulkan data tentang belajar, berpikir, perilaku siswa dan lainnya.<br /></font></div>
</td>
</tr>
</table>
	<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0">
<tr>
<td>
<div><strong><font>3. Lesson Discussion<br /></font></strong>
<p><font>&nbsp;</font></p>
	<p><font>&nbsp;</font></p>
<span><font>Menganalisis data yang dikumpulkan pada saat&nbsp; research lesson secara bersama-sama<br /></font></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span></div>
</td>
</tr>
</table>
	<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0">
<tr>
<td>
<div><strong><font>4. Consolidation of Learning<br /></font></strong><span><font>Menulis laporan yang mencakup&nbsp; perencanaan pembelajaran, data siswa hasil pengamatan, dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.<br /></font></span><span><font>Jika diperlukan guru memperbaiki dan mengulang kembali pembelajaran. <br /></font></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><font>.<br /></font></div>
</td>
</tr>
</table>
	<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0">
<tr>
<td>
<div><strong><span><font>1. Goal-Setting and Planning<br /></font></span></strong><span><font>Mengidentifikasi tujuan belajar siswa dan pengembangan jangka panjang<br /></font></span><span><font>Merencanakan&nbsp; desain pembelajaran, yang meliputi &ldquo;research lesson&rdquo;yang diamati secara berkolaborasi<br /></font></span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<font /><font /><font /><font /><span>Pengumpulan data&nbsp; utamanya difokuskan pada bagaimana siswa belajar, walaupun catatan penting tentang ucapan guru, alokasi waktu setiap tahapan pembelajaran&nbsp; juga perlu di lakukan.<br /></span><em><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span></em><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><strong>Siklus <em>Lesson Study</em> <br /></strong><strong>Siklus <em>Lesson Study</em> <br /></strong><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </font><span>Langkah-langkah pelaksanaan <em>lesson study</em> mencakup tujuh (7) kegiatan. Kegiatan tersebut adalah 1) pembentukan kelompok <em>lesson study</em>,&nbsp; 2) penentuan fokus lesson study,&nbsp; 3) perencanaan <em>lesson study</em>, 4) persiapan observasi, 5) pelaksanaan dan observasi pembelajaran, 6) tanya jawab (diskusi) tentang pembelajaran yang dilaksanakan, dan 7) refleksi dan perencanaan langkah berikutnya (Richarson, 2004).<br /></span><strong></strong><strong></strong><strong><span>Data dari pengamatan saat Do-See<br /></span></strong><strong></strong><strong>Pembuatan rencana untuk pengumpulan data</strong> juga merupakan suatu elemen penting dalam menyusun rencana untuk memandu belajar. Seperti telah dikemukakan di depan, salah satu kolom rencana <em>research lesson</em> memuat &ldquo;point to notice&rdquo; atau &ldquo;evaluation&rdquo;. <span>Kolom ini memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus dari pelajaran. Anggota kelompok <em>lesson study</em> dan guru-guru biasanya diberikan tugas dan format pengumpulan data untuk membantu mereka dalam mengumpulkan data. Pengumpulan data itu biasanya dikaitkan dengan suatu denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap anggota dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang sesuai dan diperlukan. <br /></span><span>Data yang dikumpulkan selama <em>lesson study</em> biasanya memuat bukti tentang belajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data biasanya lebih difokuskan pada siswa tetapi pengumpulan data juga biasa dilakukan untuk mencatat ucapan atau ceramah guru dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pelajaran.&nbsp; <br /></span><span>Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan <em>research lesson</em> adalah <strong>ahli dari luar</strong>. Mereka bisa berasal dari guru atau peneliti yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi yang dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli dari luar ini akan lebih efektif jika sudah berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kurikulum, dan bertindak sebagai komentator terhadap <em>research lesson<br /></em></span><em></em><strong><span>Mengajar dan Mengamati <em>Research Lesson</em><br /></span></strong><span>Sekarang <em>research lesson</em> yang sudah direncanakan sudah dapat&nbsp; diimplementasikan dan diamati. Guru anggota kelompok yang sudah ditunjuk dan disepakati melaksanakan tugas untuk mengajar <em>lesson</em> yang sudah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok yang lain mengamati <em>lesson</em> tersebut. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan <em>research lesson</em> biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan <em>audiotape</em>, <em>videotape</em>, <em>handycam</em>, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama <em>lesson study</em> adalah mengumpulkan data dan bukan membantu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu mereka. <br /></span><span>Selanjutnya, setiap anggota kelompok <em>lesson study</em> sebaiknya diberi tugas dan tanggung jawab tertentu. Diantara mereka ada yang bertugas misalnya untuk memperoleh materi yang dibutuhkan pelajaran, mengkopi rencana pembelajaran untuk pengamat, mencatat hasil-hasil diskusi setelah pelajaran, dan memfasilitasi diskusi setelah pelajaran.&nbsp; <br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></span><strong><span>Mendiskusikan dan Menganalisis <em>Research Lesson<br /></em></span></strong><strong></strong><em><span>Research lesson</span></em><span> yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan, karena hasil diskusi dan analisis tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi <em>research lesson</em>. Dengan demikian research lesson diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. <br /></span><span>Diskusi dan analisis tentang <em>research lesson</em> sebaiknya memuat butir-butir: (1) Refleksi instruktur, (2) Latar belakang anggota kelompok <em>lesson study</em>, (3) Presentasi dan diskusi tentang data dari <em>research lesson</em>, (4) Diskusi umum, (5) Komentator dari luar (optional), dan (6) Ucapan terimakasih (Lewis, 2002:69).<br /></span><span>Beberapa bagian penting dan berguna dari panduan diskusi pelajaran adalah sebagai berikut. <em>Pertama</em>, guru yang mengajar <em>research lesson</em> diberi kesempatan menjadi pembicara pertama dan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pelajarannya sebelum kesulitan tersebut dikemukakan oleh yang lain. <em>Kedua</em>, sebagai suatu aturan main, pelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok <em>lesson study</em>. Ini adalah pelajaran &ldquo;kita&rdquo;, bukan pelajaran &ldquo;saya&rdquo;, dan hal ini direfleksikan dalam setiap keterangan setiap orang. Anggota kelompok berasumsi bahwa mereka bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang ada pada pelajaran tersebut. <em>Ketiga</em>, instruktur atau para guru yang merencanakan pelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka merencanakan itu, perbedaan antara apa yang mereka rencanakan dan apa yang sesungguhnya terjadi, serta aspek-aspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya. <em>Keempat</em>, diskusi berfokus pada data yang dikumpulkan oleh para pengamat. Para pengamat membicarakan secara spesifik tentang percakapan dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pelajaran berdasarkan kesan mereka tetapi mereka membicarakan fakta yang ditemukan. <em>Kelima,</em> waktu diskusi bebas terbatas; oleh sebab itu terdapat kesempatan yang terbatas untuk &ldquo;grandstanding&rdquo; dan penyimpangan (Lewis, 2002:69).<br /></span><span>Diskusi dan analisis <em>research lesson</em> ini dilaksanakan segera, pada hari yang sama, setelah <em>research lesson</em> diimplementasikan. Hal ini benar, sebab seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hasil diskusi dan analisis ini dapat digunakan dan dipertimbangkan sebagai bahan untuk merevisi pelajaran/unit/pendekatan pembelajaran.&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></span><strong><span>Merefleksikan <em>Lesson Study</em> dan Merencanakan Tahap-tahap Berikutnya<br /></span></strong><strong></strong><span>Dalam merefleksikan <em>lesson study</em> hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Sekarang tiba saatnya untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok <em>lesson study</em>. Apakah anggota kelompok&nbsp; berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pelajaran ini menjadi lebih baik? Apakah anggota-anggota yang lain dari kelompok <em>lesson study</em> ini berkeinginan untuk mengujicobakan pelajaran ini pada kelas mereka sendiri? Apakah anggota kelompok <em>lesson study</em> puas dengan tujuan-tujuan <em>lesson study</em> dan metode operasi kelompok? (Lewis, 2002:71).<br /></span><span>Pertanyaan-pertanyaan berikut juga dapat membantu kita dalam melakukan refleksi terhadap siklus <em>lesson study</em> maupun memikirkan langkah yang akan dilakukan berikutnya. Pertanyaan tersebut antara lain adalah (1) apa yang berguna atau bernilai tentang <em>lesson study</em> yang dikerjakan bersama?, (2) apakah <em>lesson study</em> membimbing kita untuk berpikir dengan cara baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari?, (3) apakah <em>lesson study</em> membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang mata pelajaran serta pengetahuan tentang belajar dan perkembangan siswa?, (4) apakah tujuan <em>lesson study</em> menarik bagi kita semua?, (5) apakah kita bekerja bersama-sama dalam suatu cara yang bersifat produktif dan suportif?, (6) sudahkah kita membuat kemajuan terhadap tujuan <em>lesson study</em> kita secara menyeluruh?, (7) apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna?, dan (8) apakah pihak yang bukan peserta merasa terinformasikan dan terundang dalam kegiatan <em>lesson study</em> kita? (Lewis, 2002:71).<br /></span><strong>D.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong><em><span>LEARNING COMMUNITY<br /></span></em></strong><strong><em></em></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <em>Learning community</em>&nbsp; (LC) atau <strong>komunitas belajar</strong> merupakan suatu konsep tentang terciptanya masyarakat belajar di sekolah, yakni proses belajar membelajarkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara masyarakat sekolah dengan masyarakat di luar sekolah.&nbsp; Anggota komunitas belajar akan selalu &ldquo;haus&rdquo; untuk belajar meningkatkan kualitas diri.<br /></span><span>Inti dari reformasi sekolah adalah <em>Lesson Study</em>. Saat ini <em>Lesson Study</em> telah terjadwal dalam Program Tahunan <em>inservice</em> <em>training</em> guru. Tapi kalau guru hanya mengandalkan&nbsp; peningkatan kemampuannya melalui kegiatan tersebut, dianggap masih kurang. Tukar pikiran tentang pembelajaran secara informal sepanjang waktu yang tidak terjadual adalah sangat penting dan lebih banyak memberikan pengaruh kepada peningkatan keprofesionalan guru.&nbsp; Oleh karena itu guru harus belajar sepanjang masa. Guru akan dapat menemukan fakta setelah banyak belajar. Menjawab pertanyaan siswa tidak cukup hanya dengan &ldquo;menurut buku&rdquo;. Siswa akan jauh lebih tertarik jika guru dapat menunjukkan banyak fakta, termasuk dari kegiatan sehari-hari. Dengan demikian tertarik tidaknya siswa terhadap pembelajaran tergantung kemampuan guru.<br /></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><strong><span>F.&nbsp; PRO KONTRA KOLABORATIF<br /></span></strong><span>Terdapat orang yang menentang proses pembelajaran kolaboratif di Jepang. Alasannya, jika anak kelompok A mengajar kelompok C, lalu kegiatan A sendiri bagaimana? Memang hal itu akan membuat kelompok C yang tidak menguasai materi pelajaran menjadi lebih menguasai dan mereka menjadi senang. Namun belum tentu kelompok A yang telah menolongnya juga senang. Pendapat ini dimentahkan karena berdasar hasil penelitian ditunjukkan bahwa penguasaan siswa A menjadi lebih meningkat dibandingkan jika tidak dilakukan kolaboratif. Meskipun dirancang untuk meningkatkan C, tetapi dampaknya juga meningkatkan kemampuan kelompok A. Hasil ini juga didukung oleh penelitian di kedokteran. Menurut penelitian ini, oleh karena C senang dan berterimakasih kepada A, maka otak A mengeluarkan <em>dopamin</em>. Zat ini menyebabkan si A terus mengingat apa yang telah dipelajarinya. Oleh karena si C senang, C juga mengeluarkan <em>dopamin</em> sehingga C juga dapat mengingat terus apa yang pernah dipelajarinya. Karena itu hubungan yang baik antara guru-siswa juga harus dibangun agar dapat saling mengeluarkan <em>dopamin</em>. Hubungan yang baik antara guru-siswa juga dapat meningkatkan hubungan emosional guru-siswa.&nbsp;&nbsp; <br /></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><span>Untuk mengatasi rendahnya mutu sekolah di Jepang, terjadi perdebatan yang dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:<br /></span>a.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>Kelompok persaingan, yaitu mereka yang ingin melakukan latihan soal terus menerus untuk meningkatkan kemampuan anak. Mereka yang berpikir begitu menganggap bahwa persainganlah yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan anak/sekolah.&nbsp; Menurut pendapat ini,&nbsp; apabila persaingan ditingkatkan maka masing-masing anak akan berusaha&nbsp; memecahkan soal sendiri.<br /></span>b.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>Kelompok kerjasama, yaitu mereka yang mempunyai pemikiran berlawanan dengan kelompok persaingan. Kelompok ini berpendapat bahwa&nbsp; siswa yang belajar sesuatu harus berhubungan dengan pihak lain dan melalui proses belajar dengan anak/siswa lain. Konkritnya jika ada siswa belum mengetahui sesuatu, tetapi mau meminta pendapat orang lain, atau mendengar dari orang lain, maka dia akan dapat meningkatkan kemampuan diri sendiri sehingga mencapai tahapan yang lebih tinggi. Proses ini tidak akan terjadi jika ia belajar sendirian. Pendapat <strong>Vighotsky</strong> menyatakan bahwa tingkat yang dicapai oleh diri sendiri ada pada step 1 (bawah) dan ini masih bisa ditingkatkan ke step berikutnya (step2) yang lebih tinggi. Untuk melompat ke step berikutnya (step 2) butuh bantuan orang lain.&nbsp; </span>Kenaikan penguasaan&nbsp; dari step I ke step 2 yang tidak melalui bantuan orang lain sebetulnya belum mencapai step berikutnya.&nbsp; <br /><strong>G.&nbsp; SEPULUH MENIT PERTAMA TERBUANG PERCUMA<br /></strong><strong></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut <strong>Sato,</strong> <strong>Masaaki </strong>(2006), 10 menit pertama disaat kelas dimulai merupakan saat dimana motivasi siswa tinggi. Motivasi siswa akan terus menurun seiring dengan berjalannya waktu. Oleh kerena itu pada awal pembelajaran guru hendaknya segera menyampaikan materi pembelajaran. Apabila di waktu yang baik itu guru menyampaikan appersepsi, atau berbasa basi, maka sepuluh menit pertama yang sangat berarti itu akan lewat begitu saja dengan percuma. Ketika pelajaran akan dimulai, motivasi siswa sudah menurun. <br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selama proses pembelajaran hendaknya guru memperhatikan perubahan-perubahan ekspresi siswa, mimik, tingkah&nbsp; laku, kata-kata yang keluar, dan segala sesuatu yang tidak diungkapkan siswa tetapi memiliki arti penting untuk proses berlangsungnya saling membelajarkan. Maka sebaiknya guru memiliki indera keenam agar dapat menangkap pesan yang disampaikan siswa tanpa kata-kata. Dengan kata lain guru hendaknya mendalami psikologi siswa. <br /><strong>H.&nbsp; GURU MAU MEMBUKA KELAS<br /></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagi guru sendiri, belajar dari sesama guru merupakan ciri dari terbentuknya komunitas belajar. Mengingat tugas guru adalah melakukan proses pembelajaran, maka situasi saling membelajarkan itu hendaknya dilakukan di dalam suasana proses pembelajaran di kelas yang nyata, yakni sekelompok guru melakukan pengamatan dalam proses pembelajaran dan dilanjutkan dengan pemberian balikan setelah proses pembelajaran usai. Jadi dalam meningkatkan proses pembelajaran para guru melakukan kolaborasi.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk dapat melakukan kolaborasi, guru hendaknya bersedia membuka kelas yaitu: proses pembelajaran yang dilakukan diamati oleh guru lain, bahkan oleh orang tua siswa dan masyarakat. Kolaborasi itu dilaksanakan sejak melaksanakan perencanaan <em>(plan)</em> yaitu menyusun rencana pembelajaran (RP),&nbsp; melakukan pembelajaran <em>(do)</em> yang diamati oleh pengamat <em>(see) </em>dan diakhiri dengan melakukan refleksi untuk mendapatkan masukan dalam rangka peningkatan pembelajaran lebih lanjut. Kegiatan <em>plan, do, see</em> ini dikenal sebagai <em>Lesson Study</em>. Di dalam <em>Lesson Study</em> terjadi proses belajar membelajarkan antara guru-guru, guru-siswa, guru-masyarakat, siswa-siswa. Jadi <em>Lesson Study</em> merupakan tiang dari tegaknya <em>learning community</em>. Ini tidak berarti bahwa proses belajar membelajarkan hanya berlangsung ketika LS berlangsung. Menurut <strong>Ito</strong> (2006), kegiatan belajar membelajarkan di luar acara resmi itulah justru yang banyak memberikan manfaat bagi pengembangan profesi guru.<br /><strong>B.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Monitoring dan Evaluasi Lesson Study<br /></strong><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Prinsip Monitoring dan Evaluasi <br /></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sejalan perkembangan jaman, gaung tuntutan keterbukaan makin menggema. </span><span>Pertanggung jawaban dan akuntabilitas merupakan dua kata yang tak dapat dipisahkan dari tuntutan keterbukaan tadi. Pada kondisi seperti ini, pihak yang dituntut (biasanya terkait dengan proyek atau program) membutuhkan piranti atau alat yang ampuh dan dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah model Monitoring dan Evaluasi (MONEV) yang sederhana, gampang digunakan tetapi ampuh untuk mengumpulkan data empiris yang valid sehingga obyektifitas kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan. <br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Model MONEV yang konvensional lebih mengandalkan kepada &#8216;orang luar&#8217; (pakar orang luar proyek/program) yang menilai kinerja &#8216;orang dalam&#8217; (proyek dan staf proyek) dengan menggunakan prosedur standar, alat-alat dan indikator yang sudah ditentukan sebelumnya. Sering terjadi, yang dinilai merasa dicari-cari tingkat kesalahannya, menyebabkan penyajian data fiktif atau &#8216;asal Bapak senang&#8217; yang tentu saja tidak akan menjamin keterbukaan. Tambahan pula, orientasi terhadap penilaian input yang biasanya dianut oleh MONEV yang konvensional cenderung tidak memberikan manfaat bagi yang dinilai. MONEV hanya mencoba memuaskan yang melakukan, tidak memuaskan yang dinilai.<br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam dekade terakhir dikembangkan model MONEV yang melibatkan semua pihak, berupa suatu kolaborasi &#8216;outsider&#8217; dan &#8216;insider&#8217;, yang secara bersama-sama bagaimana kemajuan kegiatan/program harus dinilai, dan bagaimana tindak lanjut langkah perbaikannya (<em>corrective action</em>). Model ini tidak mencari-cari kesalahan, tetapi memberdayakan, agar dapat dicarikan <em>corrective action</em> sehingga proyek dapat berjalan dengan baik, transparan, sahih dan obyektif serta mampu memuaskan semua pihak yang terkait. Model MONEV yang lebih dikenal dengan Monitoring dan Evaluasi secara Partisipatif yang berasal dari istilah bahasa Inggris <em>Participatory Monitoring and Evaluation</em>. <br /></span><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong><span>Aspek yang dimonitoring dan dievaluasi<br /></span></strong><strong></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aspek yang dimonitoring dan dievaluasi dalam lesson study meliputi siklus lesson study, dampak lesson study pada siswa, guru, MGMP dan sekolah,&nbsp; hasil belajar siswa dan tindak lanjut lesson study. Siklus lesson study meliputi tahap <em>plan-do-see</em>. Tahap <em>plan</em> (perencanaa) meliputi kegiatan guru selama guru dan produk (perangkat pembelajaran), penentuan research lesson, jadwal dan pembagian tugas, partisipasi guru, nara sumber dan pihak lain. Tahap <em>Do-see</em> (pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran) meliputi aktivitas observer, keterlaksanaan hasil kegiatan <em>Plan</em>, dan pencapaian tujuan lesson study. Refleksi meliputi proses refleksi dan tindak lanjut dari hasil pengamatan selama <em>Do-see</em> untuk kegiatan lesson study berikutnya.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dampak lesson study pada siswa meliputi motivasi belajar, keberanian untuk mengungkapkan pendapat, mengajukan dan menjawab pertanyaan, keterampilan melaksanakan kerja ilmiah, keingintahuan terhadap gejala alam yang ada di sekitar, dan cara berpikir siswa. lesson study dikembangkan dalam forum MGMP per bidang study, baik di tingkat kabupaten/wilayah maupun sekolah.&nbsp; Dampak lesson study pada guru meliputi kemampuan merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, kemampuan penguasaan bahan ajar, kemampuan menggunakan media pembelajaran, kemampuan membelajarkan keterampilan kerja ilmiah, <em>sharing</em> tentang inovasi pembelajaran, dan keterbukaan dalam mengungkapkan kesulitan dan menerima perbaikan pembelajaran. <br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Guru yang ikut serta dalam MGMP, selanjutnya mengimplementasikan lesson study di tiap sekolah. Implementasi lesson study di sekolah melibatkan guru-guru dari berbagai bidang study dalam menggali potensi belajar siswa. Dengan demikian, guru-guru di sekolah dapat membangun masyarakat belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang study dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Indikator kualitas pendidikan adalah hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas, kemampuan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, dan hasil tes. <span>Hasil belajar merupakan umpan balik bagi guru untuk meningkatkan kualits pembelajaran di kelas. <br /></span><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Indikator Keberhasilan<br /></strong><strong></strong>Indikator berperanan sentral didalam proses MONEV. Indikator bisa kuantitatif, tetapi bisa juga kualitatif, dan menyediakan suatu jalan untuk menunjukkan dan mengukur perubahan atau kecenderungan apa yang terjadi. Oleh karena itu indikator mempunyai fungsi untuk 1) memperjelas apa, bagaimana dan dimana yang akan diukur, 2) menciptakan kesepakatan / konsensus untuk menghindari interpretasi yang salah dan menghindarkan diskusi selama pelaksanaan kegiatan, dan 3) membangun dasar bagi MONEV. Indikator merupakan acuan di dalam penyusunan daftar pertanyaan/apa yang akan ditanyakan.<br />Dengan demikian, maka Indikator seyogianya dapat menentukan kuantitas (jumlah dalam satuan ukuran seperti berat, panjang, lebar, isi), <span>kualitas (menunjukkan mutu seperti unggul, baik, buruk, dan sebagainya.), target / kelompok sasaran (siapa yang akan di nilai, obyek yang akan di ukur, biasanya merupakan sumber informasi), </span>waktu / periode (kapan dilakukan), dan <span>tempat (dimana akan dilakukan MONEV)<br /></span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Indikator keberhasilan yang digunakan dalam Lesson Study mencakup peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa, peningkatan kemampuan guru dalam penguasaan bidang studi, membelajarkan siswa, menciptakan suasana belajar yang kondusif, dan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, dan terbentuknya masyarakat belajar di antara guru dengan guru lain. Indikator keberhasilan dapat dibandingkan dengan rambu-rambu pelaksanaan lesson study yang tertuang dalam panduan pelaksanaan lesson study.<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keterkaitan indikator keberhasilan dengan aspek yang diukur dapat dilihat pada tabel berikut.
<p><font>&nbsp;</font></p>
	<table cellspacing="0" cellpadding="0" border="1">
<tr>
<td width="126"><strong>Pengukuran</strong></td>
	<td width="136"><strong>Apa yang Diukur</strong></td>
	<td width="324"><strong>Indikator</strong></td>
</tr>
	<tr>
<td width="126"><em>Output</em></td>
	<td width="136">Usaha</td>
	<td width="324">Pelaksanaan Kegiatan</td>
</tr>
	<tr>
<td width="126">Hasil (<em>outcomes</em>)</td>
	<td width="136">Efektivitas</td>
	<td width="324">Penggunaan <em>output</em>, manfaat yang berkelanjutan</td>
</tr>
	<tr>
<td width="126">Dampak</td>
	<td width="136">Perubahan</td>
	<td width="324">Perbedaannya dengan masalah awal</td>
</tr>
</table>
	<p><font>&nbsp;</font></p>
<strong>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Instrumen<br /></strong><strong></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelaksanaan MONEV pada kegiatan lesson study dilakukan memantau dan mengevaluasi kegiatan lesson study serta dampaknya bagi pengembangan&nbsp; profesi guru dan belajar siswa. Instrumen yang digunakan dalam MONEV adalah pedoman observasi, tes dan angket. Pedoman observasi dimaksudkan untuk menjaring data pelaksanaan lesson study. Pedoman observasi digunakan pada saat Plan-Do-See dan Refleksi.&nbsp; Contoh pedoman observasi dapat dilihat pada lampiran.&nbsp; Tes dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dari guru yang ikut serta dalam program lesson study. Tes dapat dilakukan pada awal dan akhir pembelajaran (pretes dan postes), atau di akhir pembelajaran saja (postes). Angket dimaksudkan untuk memperoleh data respon siswa, guru dan sekolah sebagai dampak pelaksanaan program lesson study. <br /><strong>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Analisis Data<br /></strong><strong></strong><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Analisis data dilakukan berdasarkan jenis data. </span><span>Analisis data hasil observasi <em>Plan-Do-See</em> dan refleksi dilakukan secara kualitatif dengan pemaparan proses pelaksanaan kegiatan lesson study. Analisis data&nbsp; hasil tes dilakukan secara kuantitatif atau kualitatif bergantung pada pelaksanaan tesnya. Jika tes dilakukan dengan pada akhir pembelajaran saja (postes) maka analisis data dilakukan dengan mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dan ketuntasan belajar (<em>mastery learning</em>).&nbsp; Jika dilakukan pretes dan postes, maka analisis data dilakukan dengan&nbsp; analisis <em>gain score </em>dengan menentukan <em>gain score</em> ternormalisasi dengan&nbsp; rumus sebagai berikut.<br /></span>
<p><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; % &lt;G&gt;</font></p>
	<p><font /><font></font><font>&lt;g&gt; =&nbsp; </font></p>
<font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;% &lt;G&gt;<sub>max<br /></sub></font><sub>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</sub><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;(% &lt;S<sub>f</sub>&gt; - % &lt;S<sub>i</sub>&gt; ) <br /></span></font><font /><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &lt;g&gt;&nbsp;&nbsp; =<br /></font></span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ( 100 - % &lt;S<sub>i</sub>&gt; )&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (Hake, 1999)<br /></font></span><span>Keterangan :&nbsp; &lt;g&gt; adalah <em>gain score</em> ternormalisasi<br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; S<sub>f</sub>&nbsp; adalah skor rerata <em>post-test</em><br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; S<sub>i</sub>&nbsp; adalah skor rerata <em>pre-test<br /></em></span><span>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</span><em><span>Gain score</span></em><span> ternormalisasi &lt;g&gt; merupakan metode yang cocok untuk menganalisis hasil <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em> (Hake, 1999).&nbsp; G<em>ain score</em> ternormalisasi &lt;g&gt; juga merupakan indikator yang lebih baik dalam menunjukkan&nbsp; tingkat efektivitas perlakuan daripada perolehan skor atau <em>post-test</em>&nbsp; (Hake, 2002). </span><span>Tingkat perolehan <em>gain score </em>&nbsp;ternormalisasi dikategorikan ke dalam tiga kategori, yaitu ;<br /></span><span>g-tinggi&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; dengan&nbsp; (&lt;g&gt;) &gt; 0,7<br /></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; g-sedang&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; dengan&nbsp; 0,7 &ge; (&lt;g&gt;) &ge; 0,3<br /></span><span>g-rendah&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ;&nbsp;&nbsp;&nbsp; dengan&nbsp; (&lt;g&gt;)&nbsp; &lt; 0,3 <br /></span><span><font></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /></font></span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Data yang berasal dari angket dianalisis secara sederhana secara kualitatif dan mengkuantifikasi data kualitatif. Hal ini dilakukan dengan menghitung prosentase dan rerata perolehan skor. <br /></span><strong>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Rekomendasi<br /></strong><strong></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil analisis data memberikan informasi keterlaksanaan lesson study dan dampaknya bagi siswa, guru dan sekolah untuk mempertahankan keberlangsungan program lesson study.. Informasi ini menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi atau masukan bagi pelaksana lesson study untuk memperbaiki kinerja lesson study. Kinerja tersebut mencakup kinerja dari sisi input, proses dan outpus lesson study. Rekomendasi juga difokuskan pada dampak pelaksanaan lesson study pada siswa, guru dan sekolah untuk pencapaian program lesson study.<br /><strong>C.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Penutup<br /></strong><strong></strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lesson study dilaksanakan secara berkesinambungan dalam suatu rangkaian siklus. Untuk mengukur ketercapaian tujuan dan menjamin keberlanjutan program lesson study maka perlu dimonitor dan dievaluasi dengan model Monitoring dan Evaluasi secara partisipatif. <span>Model ini memanfaatkan MONEV untuk meningkatkan kinerja, dampak dan wahana pembelajaran bagi siswa, guru dan sekolah.&nbsp; Model ini juga tidak dilakukan untuk mencari kesalahan tetapi untuk </span><span>memberdayakan kegiatan, agar dapat dicarikan <em>corrective action</em> sehingga lesson study dapat berjalan dengan baik, transparan, sahih dan obyektif serta mampu memuaskan semua pihak yang terkait</span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/07/01/peningkatan-profesionalisme-guru-melalui-lesson-study/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hasrat Untuk Berubah</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/06/24/hasrat-untuk-berubah/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/06/24/hasrat-untuk-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 00:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/06/24/hasrat-untuk-berubah/</guid>
		<description><![CDATA[	Hasrat Untuk BerubahKetika aku masih muda dan bebas berkhayalAku bermimpi ingin mengubah duniaSeiring dengan bertambahnya usia dan kearifankuKudapati bahwa&hellip;Dunia tak kunjung berubah.Maka cita-cita itu pun aku persempitLalu kuputuskan untuk hanya mengubah negerikuNamun nampaknya&hellip;Hasrat itu pun tiada hasilnya.Ketika usiaku semakin senjaDengan semangatku yang masih tersisaKuputuskan untuk mengubah keluargakuOrang-orang yang paling dekat dengankuTetapi celakanya&hellip;Merekapun tidak mau diubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong><span>Hasrat Untuk Berubah<br /></span></strong>Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal<br />Aku bermimpi ingin <em>mengubah dunia</em><br />Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku<br />Kudapati bahwa&hellip;<br />Dunia tak kunjung berubah.<br />Maka cita-cita itu pun aku persempit<br />Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku<br />Namun nampaknya&hellip;<br />Hasrat itu pun tiada hasilnya.<br /><span>Ketika usiaku semakin senja<br /></span><span>Dengan semangatku yang masih tersisa<br /></span><span>Kuputuskan untuk <em>mengubah keluargaku</em><br /></span><span>Orang-orang yang paling dekat denganku<br /></span><span>Tetapi celakanya&hellip;<br /></span><span>Merekapun tidak mau diubah !<br /></span><span>Dan kini<br /></span><span>Sementara aku terbaring saat ajal menjelang<br /></span><span>Tiba-tiba kusadari&hellip;<br /></span><span>&ldquo;Andaikan yang pertama-tama ku ubah adalah diriku<br /></span><span>Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan<br /></span><span>Mungkin aku bisa mengubah keluargaku&hellip;<br /></span><span>Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka<br /></span><span>Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki &#8212;Negeriku&#8212;<br /></span><span>Kemudian siapa tahu<br /></span><span>Aku bahkan bisa mengubah dunia !&rdquo;<br /></span><span>(Westminter Abbey, 1142 SM)</span>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/06/24/hasrat-untuk-berubah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>MINHAJUL NGABIDIN ITU&#8230;</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/minhajul-ngabidin-itu/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/minhajul-ngabidin-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 16:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/minhajul-ngabidin-itu/</guid>
		<description><![CDATA[	
&nbsp;

&nbsp;
BIOGRAFIKU
&nbsp;
	


M



	inhajul Ngabidin, lahir di Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 10 Mei 1969. Anak dari keluarga petani pasangan suami istri dengan ayah bernama Suparjan dan ibu Dawimah ini mengawali pendidikannya di SD Inpres Nogosari (1982). Tamat dari SMP Negeri Gondowulung (1985) ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Tamat SMA pada tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</strong><strong>
<p><font>&nbsp;</font></p>
</strong><strong><font>BIOGRAFIKU<br /></font></strong>
<p><font>&nbsp;</font></p>
	<div>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left" border="0">
<tr>
<td valign="top" align="left"><font>M<br /></font></td>
</tr>
</table>
</div>
	<p><font>inhajul Ngabidin, lahir di Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 10 Mei 1969. Anak dari keluarga petani pasangan suami istri dengan ayah bernama Suparjan dan ibu Dawimah ini mengawali pendidikannya di SD Inpres Nogosari (1982). Tamat dari SMP Negeri Gondowulung (1985) ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Tamat SMA pada tahun 1988 ia mendapat kesempatan masuk ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) pada Fakultas MIPA melalui Program Khusus Kependidikan D-3 dengan jurusan Pendidikan Kimia. </font></p>
	<p><font>Sebagai konsekuensi atas beasiswa ikatan dinas yang diterimanya, setelah tamat dari Universitas Gadjah Mada (1991), ia mendapatkan tugas untuk mengabdikan diri sebagai PNS Guru di wilayah Indonesia Timur, tepatnnya di SMA Negeri 5 Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur (sampai sekarang). </font></p>
	<p><font>Guru yang dikenal bersemangat kerja tinggi dan bertekat untuk memberikan yang terbaik bagi daerah dimanapun ia ditugaskan ini terus berusaha meningkatkan dedikasi dan kemampuan akademiknya. Sembari melaksanakan tugasnya, ia menekuni kuliah-kuliah jarak jauh melalui Universitas Terbuka dan tamat pada tahun 1994 dengan mendapat gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).</font></p>
	<p><font>Pada bulan Mei 1996 ia menikah dengan &ldquo;nona&rdquo; asal pulau Rote bernama Talenalain B. Muskananfola dan saat ini sudah dikaruniai 2 orang putera, Faizal Nur &lsquo;Abidin (15 Februari 1997) dan Rahmani Dian Nuswantari (24 Mei 1998). </font></p>
	<p><font>Guru dengan spesifikasi pelajaran Kimia yang mendapatkan seabrek tugas tambahan di sekolah ini berpendapat bahwa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semuanya berawal dari lantai laboratorium. Karenanya sebagai Wakasek Kurikulum dan juga pengelola laboratorium sekolah, ia selalu aktif bersama teman-temannya melakukan berbagai upaya untuk mengefektifkan kegiatan di laboratorium. </font></p>
	<p><font>Berbagai pengalaman di bidang pendidikan, organisasi dan kemasyarakatan sudah ditimbanya sejak ia duduk di bangku kuliah, antara lain sebagai Kader Penyuluh Keluarga Berencana, Ketua Ikatan Santri Kabupaten Bantul dan juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Karenanya tidaklah mengherankan jika saat ini ia juga aktif di berbagai kegiatan keagamaan, kemasyarakatan, kepemudaan dan juga pramuka. </font></p>
	<p><font>Prestasi yang pernah diraih antara lain:</font></p>
	<p><font></font><font>1.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Penerima Science Education Award (SEA) dari ITSF Jepang (tahun 2000)</font></p>
	<p><font></font><font>2.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peserta Lomba Karya Tulis IMTAQ (tahun 1999, 2000 dan 2001)</font></p>
	<p><font></font><font>3.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peserta Lomba Karya Tulis Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (tahun 2002).</font></p>
	<p><font></font><font>4.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peserta Pertukaran Guru Lintas Propinsi NTT &ndash; D.I. Yogyakarta (tahun 2003)</font></p>
	<p><font></font><font>5.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peserta/Pemakalah Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah I dan II (tahun 2003, 2004)</font></p>
	<p><font></font><font>6.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peringkat I Guru Berprestasi Tingkat Kota Kupang (tahun 2004)</font></p>
	<p><font></font><font>7.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Peringkat I Guru Berprestasi Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur (tahun 2004)</font></p>
<font></font><font>8.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span><font>Peserta Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Nasional (tahun 2004)<br /></font></span>
<p><font></font><font>9.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Pemenang&nbsp; I&nbsp; Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran tingkat Nasional (jenjang SMA), (tahun 2004).</font></p>
	<p><font></font><font>10.</font>&nbsp; <font>Penerima penghargaan dari Provisi Education &ndash; Sampoerna Foundation 16 makalah terbaik yang dipresentasikan dalam Indonesia Teacher&rsquo;s Conferences di Jakarta Int&rsquo;l Expo, Desember 2006.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/minhajul-ngabidin-itu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Paradigma Baru Pendidikan Taman Kanak-Kanak</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/paradigma-baru-pendidikan-taman-kanak-kanak/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/paradigma-baru-pendidikan-taman-kanak-kanak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 16:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/paradigma-baru-pendidikan-taman-kanak-kanak/</guid>
		<description><![CDATA[	Anak adalah buah hati, tumpuan harapan bagi orang tua. Pendidikan anak pra-sekolah merupakan bagian penting dari pembinaan generasi muda.&nbsp; Masa pra-sekolah merupakan pengalaman awal yang sangat berpengaruh pada kualitas bangsa di masa yang akan datang. Usia 0 &ndash; 6 tahun merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan anak. Pada masa ini merupakan suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font>Anak adalah buah hati, tumpuan harapan bagi orang tua. Pendidikan anak pra-sekolah merupakan bagian penting dari pembinaan generasi muda.&nbsp; Masa pra-sekolah merupakan pengalaman awal yang sangat berpengaruh pada kualitas bangsa di masa yang akan datang. Usia 0 &ndash; 6 tahun merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan anak. Pada masa ini merupakan suatu waktu yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan berbagai potensi anak yang meliputi perkembangan fisik, bahasa, sosial emosional, nilai-nilai moral dan agama, konsep diri, kreasi dan apresiasi seni. <br /></font><font /><font>Dalam proses pembelajarannya, taman kanak-kanak dibagi atas dua bidang pengembangan yaitu : 1) bidang pembiasaan yang meliputi meliputi moral, nilai-nilai agama, sosial emosional dan kemandirian, dan 2) bidang pengembangan kemampuan dasar (kognitif, bahasa, fisik motorik dan seni) yang dilaksanakan secara terpadu.<br /></font><font /><font>&nbsp;Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran di taman kanak-kanak antara lain:<br /></font>
<p><font /><font>1.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Berorientasi pada kebutuhan anak (<em>children needs oriented</em>), bukan pada kebutuhan dan kemauan orang tua.</font></p>
	<p><font /><font>2.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Dengan menggunakan metode-metode yang sesuai dan didukung dengan penggunaan alat/bahan dan media yang menarik yang ada di sekitarnya anak diajak untuk berekspresi untuk melakukan penjajakan dan dan menemukan sendiri hal-hal yang terjadi.</font></p>
	<p><font /><font>3.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Pembelajaran berpusat pada anak (<em>children oriented</em>), artinya anak terlibat secara aktif untuk melakukan dan menemukan.</font></p>
	<p><font /><font>4.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Tematik, artinya pembelajaran dimulai dari tema-tema yang paling dekat dan paling menarik dengan kehidupan anak. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat mengenal konsep-konsep yang akan disampaikan guru dengan lebih mudah dan jelas, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Tema yang paling dekat dengan anak adalah diri sendiri.</font></p>
	<p><font /><font>5.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Penciptaan lingkungan yang kondusif. Lingkungan anak, baik di sekolah maupun di keluarga harus diupayakan kondusif terhadap upaya pembentukan perilaku dan perkembangan kepribadian anak, menarik untuk bermain dan menyenangkan untuk belajar.</font></p>
	<p><font /><font>6.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Demokratis, artinya dalam pembelajaran harus diciptakan suasana demokratis antara sesame anak maupun antara anak dengan pendidik.</font></p>
	<p><font /><font>7.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Mengembangkan kecakapan hidup, yang didasarkan pada pembiasaan agar mampu menolong dirinya sendiri (mandiri), disiplin, mampu bersosialisasi dan memperoleh ketrampilan dasar yang berguna untuk kehidupannya kelak.</font></p>
	<p><font>Menurut hasil penelitian di bidang neurology oleh ahli neurology Asborn, White dan Bloom bahwa pada usia 4 tahun pertama separuh kecerdasan manusia sudah terbentuk. Apabila pada usia tersebut anak tidak mendapat rangsangan yang maksimal, maka potensi anak tidak akan berkembang secara optimal. Secara keseluruhan pada usia 8 tahun 80 % kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk, artinya kapasitas kecerdasan anak hanya bertambah 30 % pada usia antara 4 &ndash; 8 tahun. Selanjutnya kapasitas kecerdasan anak akan mencapai 100 % setelah anak berusia sekitar 18 tahun.</font></p>
	<p><font>Berdasarkan teori kecerdasan jamak (<em>multiple intelegent</em>), setiap anak memiliki potensi kecerdasan. Potensi kecerdasan tersebut akan berkembang secara optimal bila dikembangkan sejak dini, melalui layanan pendidikan yang tepat dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Multiple intelligences terdiri atas 9 kecerdasan, yaitu:</font></p>
	<p><font /><font>1.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan linguistic (linguistic intelligences), dapat berkembang bila dirangsang melalui berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, berdiskusi dan bercerita.</font></p>
	<p><font /><font>2.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan logika matematik (logicomathematical intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, manganalisis data dan bermain dengan benda-benda.</font></p>
	<p><font /><font>3.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence), yaitu kemampuan ruang yang dapat dirangsang melalui bermain balok-balok, bentuk-bentuk geometris, puzzle, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain daya khayal (imajinasi).</font></p>
	<p><font /><font>4.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan musical (musical intelligence) yang dapat dirangsang dengan irama, nada, birama, berbagai bunyi dan tepuk tangan.</font></p>
	<p><font /><font>5.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan kinestetik (kinesthetic intelligence) yang dapat dirangsang melalui gerakan, tarian, olahraga terutama gerakan tubuh.</font></p>
	<p><font /><font>6.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan naturalis (naturalist intelligence) yaitu mencintai keindahan alam, yang dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti angin, hujan, banjir, pelangi, terjadinya siang dan malam, panas dingin, bulan, bintang dan matahari.</font></p>
	<p><font /><font>7.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia (berkawan) yang dapat dirangsang dengan melalui bermain bersama teman, bekerja sama, bermain peran dan memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.</font></p>
	<p><font /><font>8.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence) yaitu kemampuan diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri, termasuk kontrol diri dan disiplin.</font></p>
	<p><font /><font>9.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) yaitu kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan yang dapat dirangsang melalui penanaman nilai-nilai moral dan agama.</font></p>
	<p><font>Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan dasar perumusan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran di taman kanak-kanak dan dengan melalui pengalaman-pengalaman belajar tertentu untuk mendapatkan hasil belajar yang diinginkan (sesuai kurikulum berbasis kompetensi 2004).</font></p>
	<p><font>Kecerdasan yang kompleks memungkinkan untuk setiap anak memiliki bakat, minat, potensi yang berbeda, karenanya dalam pengembangan pendidikan anak, baik guru maupun orang tua tidak boleh memperlakukan semua anak secara sama, tapi perlu diarahkan sesuai potensi, bakat dan minat masing-masing. Janganlah memperbandingkan antara anak satu dengan lainnya dengan mengklaim anak tertentu lebih pintar dari pada anak lainnya. Misalnya si A pintar berhitung, maka si B juga dituntut untuk harus pintar berhitung, padahal si B lebih senang bermain di bidang seni. Biarkan si B menekuni kesenangannya (bakat) di bidang seni, karena setelah dewasa nanti&nbsp; ia akan menjadi musikus terkenal yang mampu menopang hidupnya, demikian pun sebaliknya.</font></p>
	<p><font>Keberhasilan hidup tidak tergantung pada kecerdasan belaka, melainkan dipengaruhi juga oleh faktor-faktor bagaimana ia dapat mengembangkan potensi sesuai kemampuan spesifik yang dimilikinya. Inul Daratista dapat meraih sukses bukan karena kecerdasan kognitifnya, tetapi karena kemapuannya membuat inovasi panggung dengan goyang ngebornya. Rudi Khoirudin, meskipun laki-laki tetapi berhasil sukses karena bakat yang dikembangkannya melalui masak-memasak. Para pejabat-pejabat kita baik di jajaran legislatif maupun eksekutif, waktu di taman kanak-kanak dan sekolah mungkin tidak memiliki kecerdasan yang cukup tinggi di bidang matematika, misalnya, tetapi mereka mampu menjalin komunikasi yang baik, bersosialisasi dan bekerjasama dengan temannya sehingga dapat mengembangkan kemampuan spesifiknya untuk menjadi pemimpin.</font></p>
	<p><font>Kenyataan-kenyataan tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa pembelajaran yang baik tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, melainkan harus harus juga dikembangkan aspek psikomotorik dan afektif. Pengembangan IQ (<em>Intelegencia Quotient</em>), EQ (<em>Emotional Quotient</em>) dan SQ (<em>Spiritual Quotient</em>) harus diselaraskan sehingga dapat tercipta manusia Indonesia yang seutuhnya, generasi yang cerdas otaknya, memiliki keterampilan (skill) yang memadai dan memiliki perilaku sosial, moral dan agama yang baik. Ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan terutama pendidikan pra-sekolah untuk dapat memberikan sebuah kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan ketiga aspek kemampuan tersebut secara selaras dan seimbang.</font></p>
	<p><font>Berangkat dari adanya tantangan tersebut, maka di Taman Kanak-kanak telah dirancang sebuah program pembelajaran yang disesuaikan dengan bakat dan minat anak yang disebut dengan <strong><em>pembelajaran area</em></strong>. Pembelajaran area merupakan pembelajaran yang berpusat pada anak (<em>children oriented)</em> dengan memperhatikan minat dan bakat anak. Ruang belajar didesain dalam beberapa area dan pada tiap-tiap area disiapkan bahan-bahan ajar dan alat-alat peraga yang menarik. Anak bebas memilih area mana yang dia sukai,&nbsp; sehingga anak dapat dengan penuh semangat dan perasaan senang untuk mencoba, melakukan dan menemukan jawaban sesuai pengalaman belajarnya. Pembelajaran dengan sistem ini tidak menempatkan guru sebagai seseorang yang pintar dan harus menggurui dan memerintah anak, melainkan guru hanyalah bertindak sebagai fasilitator yang memandu jalannya kegiatan dengan memperhatikan bakat dan minat anak.</font></p>
	<p><font>Adapun area yang dikembangkan dalam pembelajaran ini meliputi:</font></p>
	<p><font /><font>1.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Alam Terbuka, untuk melatih dan merespon anak mengenal fenomena alam, keindahan alam melalui pengamatan lingkungan.</font></p>
	<p><font /><font>2.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Matematika, melatih anak untuk mengenal konsep-konsep dasar matematika secara sederhana.</font></p>
	<p><font /><font>3.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Bahasa, melatih kemampuan dasar anak dalam berbahasa, misalnya melalui anak bercerita, mendengarkan cerita dari orang lain dan melatih bahasa lisan.</font></p>
	<p><font /><font>4.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Baca Tulis, melatih kemampuan dasar membaca dan menulis (baca tulis permulaan) sesuai tahapan-tahapan awal membaca dan menulis.</font></p>
	<p><font /><font>5.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Drama, melatih anak yang mempunyai bakat dan minat di bidang drama peran.</font></p>
	<p><font /><font>6.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), melatih anak agar dapat mempunyai bakat di bidang sains, sehingga kelak dapat menjadi saintist, bahkan penemu-penemu di bidang sains.</font></p>
	<p><font /><font>7.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Musik, melatih anak yang berbakat di bidang musik.</font></p>
	<p><font /><font>8.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Balok, melatih anak yang berbakat di bidang bangunan, konstruksi, arsitek dan sejenisnya.</font></p>
	<p><font /><font>9.</font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <font>Area Seni Motorik Halus, melatih anak yang berbakat di bidang seni, melukis dan kerajinan tangan lainnya.</font></p>
	<p><font /><font>10.</font>&nbsp; <font>Area Agama, melatih anak agar lebih mengenal sang pencipta, mengetahui perbuatan-perbuatan yang baik dan yang tidak baik, yang benar dan yang salah.</font></p>
	<p><font>Dalam penerapan sistem area anak dibebaskan memilih area sesuai dengan kesukaannya (bakat dan minatnya), guru hanya membimbing dan mengupayakan sehingga setiap anak muncul keberanian untuk mencoba dan muncul kreatifitasnya untuk melakukan sesuatu di area yang dipilihnya. Dalam pelaksanaannya di sekolah-sekolah yang sudah menerapkan sistem area, pembelajaran memang menjadi lebih menarik bagi murid, lebih variatif dan murid menjadi senang. </font></p>
	<p><font>Hal yang harus menjadi perhatian dan pemikiran bagi kita adalah, bahwa dengan sistem area ini diperlukan tenaga guru yang lebih, sehingga pembimbingan di tiap area dapat berlangsung dengan optimal. Disamping itu diperlukan sarana, fasilitas dan alat-alat peraga yang representativef dan dalam jumlah yang cukup. Konsekuensi ini akan berpengaruh pada kebutuhan dana. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan di taman kanak-kanak, baik pemerintah, yayasan-yayasan penyelenggara taman kanak-kanak, play group dan sejenisnya, masyarakat dan terutama orang tua murid perlu kerjasama dan bergandengan tangan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.</font></p>
	<p><font>Pendidikan anak adalah investasi, tidak ada sesuatu yang lebih berharga yang kita miliki dan yang akan kita tinggalkan melebihi berharganya anak-anak yang cerdas, cakap, terampil dan berbudi pekerti baik. Bagian penting dari proses pendidikan anak adalah pendidikan pra-sekolah (Taman Kanak-kanak). Marilah kita hilangkan persepsi yang mengasumsikan bahwa taman kanak-kanak hanyalah tempat untuk anak-anak bermain dan bernyanyi, tetapi harus kita bawa persepsi kita pada paradigma baru bahwa taman kanak-kanak adalah bagian integral yang penting dari proses pendidikan, peletak dasar bagai masa depan anak dan juga masa depan bangsa.</font></p>
	<p><font>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
	<p><font>*)&nbsp;Oleh Talenalain B. Muskananfola, S.Pd//Kepala TK. Kemala bahayngkari 01 Kupang, anggota Tim TOT Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Taman Kanak-kanak pada Dinas Pendidikan Propinsi Nusa Tenggara Timur.HP. 081529010084, e-mail: talen@yahoo.co.id.</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/paradigma-baru-pendidikan-taman-kanak-kanak/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/hello-world/</link>
		<comments>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 15:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Minhajul</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
		<guid>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[	Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
	An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
	<p>An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the <a href="http://blogsome-forum.blogsome.com">forums</a> &#8212; we are only too willing to help.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmin.blogsome.com/2008/06/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
