LPMP Propinsi NTT sahabat Guru

July 1, 2008

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY

Filed under: Uncategorized - Minhajul @ 1:32 am

A.       Lesson Study
Lesson Study telah dipilih dan diterapkan di beberapa negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan, teknik, atau metode yang dapat diandalkan. Ternyata pendekatan ini dapat meningkatkan kompetensi dan keprofesionalan guru serta meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Mengingat manfaat pendekatan ini yang demikian bagus, maka kita perlu juga berupaya, memikirkan, dan mencoba menerapkannya pada sekolah di negeri kita ini.
            Lesson study  diartikan sebagai program in-service training guru yang dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson study dilakukan di dalam kelas dengan tujuan untuk memahami siswa dengan lebih baik dan dilakukan secara bersama-sama dengan guru lain (Rahayu. 2006).
            Lesson study merupakan salah satu strategi pengembangan profesional guru. Kelompok guru mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama dan menentukan salah satu guru untuk melaksanakan pembelajaran tersebut, sedangkan guru lainnya mengamati belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru tersebut berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi (Richardson, 2004).
            Lesson study adalah kegiatan bersama  yang melibatkan sejumlah guru, pakar terkait(dalam konteks kegiatan ini adalah dosen) dan pihak lain yang relevan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang efektif melalui rangkaian siklus Planning-Doing-Seeing. Planning merupakan kegiatan merencanakan pembelajaran yang akan diimplementasikan di kelas pembelajaran. Termasuk dalam tahap ini adalah membuat kesepakatan seorang guru yang diberi tugas mengimplementasikan rancangan pembelajaran, penentuan fokus pengamatan observer (research lesson) pembagian tugas observer pada saat Do-See, penentuan moderator dan notulen pada saat refleksi. Doing merupakan kegiatan mengimplementasikan rancangan pembelajaran yang dihasilkan pada tahap planning di kelas pembelajaran oleh seorang guru yang ditunjuk. Seeing merupakan kegiatan mengamati proses pembelajaran oleh guru lain (observer). Pengamatan dilakukan oleh seluruh anggota kelompok (guru yang tidak bertugas mengajar, dosen dan pihak lain yang terlibat dalam kegiatan planning). Fokus pengamatan kegiatan ini adalah perilaku siswa (aktivitas, sikap dan cara berpikir siswa) selama pembelajaran. Refleksi dilakukan dengan tanya jawab atau diskusi untuk membahas kekurangan dalam mengimpelemtasikan rancangan pembelajaran yang dihasilkan pada tahap planning yang ditemukan selama pengamatan. Meskipun fokus pengamatan dilakukan pada perilaku siswa, hasil refleksi merupakan perbaikan terhadap cara guru untuk membelajarkan siswa.
            Lesson study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan “research lessons,” dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut (Lewis, 2002:1). Gambar 2. 1 menunjukkan siklus dalam lesson study.

 *) Disampaikan pada Workshop MGMP Kimia Kota Kupang di PSBB MAN Model Kupang ( 19 – 20 Nopember 2007)
**) Minhajul Ngabidin dan Stefanus Jelau, adalah widyaiswara pada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Propinsi NTT.

 

Lesson study yang di dalam bahasa Jepang disebut jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang di lakukan oleh guru / sekelompok guru yang bekerjasama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama, guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainnya) merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian diobservasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan pembelajaran yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran di mana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan, kapan siswa mendapatkan pengetahuanya dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas dll. Diskusi pada saat refleksi yang mengkritik penampilan guru sejauh mungkin dihindari, dikarenakan hal tersebut tidak mempunyai manfaat bagi kesinambungan kegiatan lesson study.

 

Untuk dapat memulai kegiatan lesson study maka diperlukan perubahan dari dalam diri guru sehingga memiliki sikap sebagai berikut:
1.     Semangat  introspeksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pertanyaan seperti: Apakah saya sudah melakukan tugas mendidik dengan baik? Apakah saya sudah melakukan tugas seoptimal mungkin? Adalah merupakan serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara jujur. Jawaban tersebut tentu akan mendorong pada proses pencarian cara untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan atas jawaban tersebut.
2.     Keberanian membuka diri untuk dapat menerima saran dari orang lain untuk peningkatan kualitas diri.
3.     Keberanian untuk  mengakui kesalahan diri sendiri.
4.     Keberanian mengakui dan memakai ide orang lain yang  baik
5.     Keberanian memberikan masukan yang jujur dan penuh penghormatan
Kelima sikap tersebut menjadi persyaratan yang harus dipahami dan mulai dipertajam sebelum kita melakukan kegiatan lesson study.  Selain sikap dasar yang harus disiapkan oleh guru tersebut, maka juga sangat penting peranan dari berbagai komponen yang terkait dalam bidang pendidikan: pengelola sekolah, MGMP, kantor dinas pendidikan, universitas, dan para pemerhati pendidikan pada komitmen nyata dalam mendukung kegiatan lesson study.
Tahapan Pelaksanaan Lesson Study
            Pada dasarnya lesson study dapat dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain: 1) membentuk group lesson study  misalnya guru dalam satu rumpun di sekolah,  MGMP di kota /kabupaten atau guru seorang diri (tidak harus membuat kelompok) 2) menentukan fokus kajian dari lesson study, 3) merencanakan research lesson 4) mengajar dan guru/anggota group  lain mengamati pembelajaran 5) mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi dan 6) refleksi dan penyempurnaan untuk kegiatan berikutnya. Kegiatan lesson study secara sederhana dapat disingkat menjadi kegiatan Plan, Do-See dan Reflection.
Membentuk group lesson study
            Paling tidak ada empat kegiatan yang dilakukan dalam pembentukan group. Kegiatan tersebut antara lain adalah: 1) merekrut anggota, yang bisa berasal dari guru satu mata pelajaran atau lain, satu tingkat kelas, pengawas dari diknas, pemerhati pendidikan, atau dosen, 2) menyusun komitmen waktu, untuk pertemuan rutin merancang, melaksanakan, mengamati dan merefleksi lesson study, 3) menyusun jadwal pertemuan, 4) menyetujui aturan di dalam  group.
Menentukan fokus Lesson study
            Tahapan yang dilakukan untuk menentukan fokus lesson study antara lain adalah: 1) menyepakati tema penelitian,2) menentukan mata pelajaran (kalau anggota group guru lintas mata pelajaran), 3) menentukan satuan (unit) pelajaran.
Merencanakan Research lesson
            Di dalam merencanakan research lesson, tentu kita senantiasa berpedoman pada fokus yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan mendiskripsikan  tema penelitian kemudian mengintegrasikan dalam lesson plan tentu akan diperoleh kegiatan research lesson yang diharapkan. Untuk memandu penyusunan perencanaan research lesson , pertanyaan berikut ini bisa menjadi acuan:
1)  apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?
2)  apa yang kita harapkan dikuasai siswa pada akhir pelajaran?
3)  apa saja rangkaian pertanyaan dan atau pengalaman belajar siswa yang akan mendorong siswa memperoleh pengetahuan yeng lebih lanjut?
4)  kegiatan apa yang mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa?
5)  Apa bukti tentang hasil belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang harus dikumpulkan untuk data diskusi pada saat refleksi dan bagaimana instrumen pengumpulnya?
Pembuatan instrumen pengumpul data yang digunakan pada saaat reseach lesson menjadi sangat penting. Keberadaan instrumen pengumpul data yang berupa format isian tentang: denah tempat duduk siswa, anggota kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek  untuk mencatat hal-hal penting yang dilakukan siswa misalnya partisipasi siswa dalam diskusi, sangat mendukung ketersediaan data yang akan dijadikan dasar di dalam kegiatan diskusi setelah pembelajaran selesai diamati.

2. Research Lesson

Salah satu guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan desain yang telah disusun, sedangkan guru lain mengamati dan mengumpulkan data tentang belajar, berpikir, perilaku siswa dan lainnya.
3. Lesson Discussion

 

 

Menganalisis data yang dikumpulkan pada saat  research lesson secara bersama-sama

 

4. Consolidation of Learning
Menulis laporan yang mencakup  perencanaan pembelajaran, data siswa hasil pengamatan, dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.
Jika diperlukan guru memperbaiki dan mengulang kembali pembelajaran.

 

.
1. Goal-Setting and Planning
Mengidentifikasi tujuan belajar siswa dan pengembangan jangka panjang
Merencanakan  desain pembelajaran, yang meliputi “research lesson”yang diamati secara berkolaborasi

 

Pengumpulan data  utamanya difokuskan pada bagaimana siswa belajar, walaupun catatan penting tentang ucapan guru, alokasi waktu setiap tahapan pembelajaran  juga perlu di lakukan.

 

 

 

 

 

                                                                                                           
                                   

 

 

 

 

                                                                                   
                                   
                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siklus Lesson Study
Siklus Lesson Study
            Langkah-langkah pelaksanaan lesson study mencakup tujuh (7) kegiatan. Kegiatan tersebut adalah 1) pembentukan kelompok lesson study,  2) penentuan fokus lesson study,  3) perencanaan lesson study, 4) persiapan observasi, 5) pelaksanaan dan observasi pembelajaran, 6) tanya jawab (diskusi) tentang pembelajaran yang dilaksanakan, dan 7) refleksi dan perencanaan langkah berikutnya (Richarson, 2004).
Data dari pengamatan saat Do-See
Pembuatan rencana untuk pengumpulan data juga merupakan suatu elemen penting dalam menyusun rencana untuk memandu belajar. Seperti telah dikemukakan di depan, salah satu kolom rencana research lesson memuat “point to notice” atau “evaluation”. Kolom ini memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus dari pelajaran. Anggota kelompok lesson study dan guru-guru biasanya diberikan tugas dan format pengumpulan data untuk membantu mereka dalam mengumpulkan data. Pengumpulan data itu biasanya dikaitkan dengan suatu denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap anggota dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang sesuai dan diperlukan.
Data yang dikumpulkan selama lesson study biasanya memuat bukti tentang belajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data biasanya lebih difokuskan pada siswa tetapi pengumpulan data juga biasa dilakukan untuk mencatat ucapan atau ceramah guru dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pelajaran. 
Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan research lesson adalah ahli dari luar. Mereka bisa berasal dari guru atau peneliti yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi yang dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli dari luar ini akan lebih efektif jika sudah berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kurikulum, dan bertindak sebagai komentator terhadap research lesson
Mengajar dan Mengamati Research Lesson
Sekarang research lesson yang sudah direncanakan sudah dapat  diimplementasikan dan diamati. Guru anggota kelompok yang sudah ditunjuk dan disepakati melaksanakan tugas untuk mengajar lesson yang sudah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok yang lain mengamati lesson tersebut. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan research lesson biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan audiotape, videotape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama lesson study adalah mengumpulkan data dan bukan membantu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu mereka.
Selanjutnya, setiap anggota kelompok lesson study sebaiknya diberi tugas dan tanggung jawab tertentu. Diantara mereka ada yang bertugas misalnya untuk memperoleh materi yang dibutuhkan pelajaran, mengkopi rencana pembelajaran untuk pengamat, mencatat hasil-hasil diskusi setelah pelajaran, dan memfasilitasi diskusi setelah pelajaran. 
    
Mendiskusikan dan Menganalisis Research Lesson
Research lesson yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan, karena hasil diskusi dan analisis tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi research lesson. Dengan demikian research lesson diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien.
Diskusi dan analisis tentang research lesson sebaiknya memuat butir-butir: (1) Refleksi instruktur, (2) Latar belakang anggota kelompok lesson study, (3) Presentasi dan diskusi tentang data dari research lesson, (4) Diskusi umum, (5) Komentator dari luar (optional), dan (6) Ucapan terimakasih (Lewis, 2002:69).
Beberapa bagian penting dan berguna dari panduan diskusi pelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, guru yang mengajar research lesson diberi kesempatan menjadi pembicara pertama dan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pelajarannya sebelum kesulitan tersebut dikemukakan oleh yang lain. Kedua, sebagai suatu aturan main, pelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok lesson study. Ini adalah pelajaran “kita”, bukan pelajaran “saya”, dan hal ini direfleksikan dalam setiap keterangan setiap orang. Anggota kelompok berasumsi bahwa mereka bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang ada pada pelajaran tersebut. Ketiga, instruktur atau para guru yang merencanakan pelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka merencanakan itu, perbedaan antara apa yang mereka rencanakan dan apa yang sesungguhnya terjadi, serta aspek-aspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya. Keempat, diskusi berfokus pada data yang dikumpulkan oleh para pengamat. Para pengamat membicarakan secara spesifik tentang percakapan dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pelajaran berdasarkan kesan mereka tetapi mereka membicarakan fakta yang ditemukan. Kelima, waktu diskusi bebas terbatas; oleh sebab itu terdapat kesempatan yang terbatas untuk “grandstanding” dan penyimpangan (Lewis, 2002:69).
Diskusi dan analisis research lesson ini dilaksanakan segera, pada hari yang sama, setelah research lesson diimplementasikan. Hal ini benar, sebab seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hasil diskusi dan analisis ini dapat digunakan dan dipertimbangkan sebagai bahan untuk merevisi pelajaran/unit/pendekatan pembelajaran.   
Merefleksikan Lesson Study dan Merencanakan Tahap-tahap Berikutnya
Dalam merefleksikan lesson study hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Sekarang tiba saatnya untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Apakah anggota kelompok  berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pelajaran ini menjadi lebih baik? Apakah anggota-anggota yang lain dari kelompok lesson study ini berkeinginan untuk mengujicobakan pelajaran ini pada kelas mereka sendiri? Apakah anggota kelompok lesson study puas dengan tujuan-tujuan lesson study dan metode operasi kelompok? (Lewis, 2002:71).
Pertanyaan-pertanyaan berikut juga dapat membantu kita dalam melakukan refleksi terhadap siklus lesson study maupun memikirkan langkah yang akan dilakukan berikutnya. Pertanyaan tersebut antara lain adalah (1) apa yang berguna atau bernilai tentang lesson study yang dikerjakan bersama?, (2) apakah lesson study membimbing kita untuk berpikir dengan cara baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari?, (3) apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang mata pelajaran serta pengetahuan tentang belajar dan perkembangan siswa?, (4) apakah tujuan lesson study menarik bagi kita semua?, (5) apakah kita bekerja bersama-sama dalam suatu cara yang bersifat produktif dan suportif?, (6) sudahkah kita membuat kemajuan terhadap tujuan lesson study kita secara menyeluruh?, (7) apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna?, dan (8) apakah pihak yang bukan peserta merasa terinformasikan dan terundang dalam kegiatan lesson study kita? (Lewis, 2002:71).
D.     LEARNING COMMUNITY
            Learning community  (LC) atau komunitas belajar merupakan suatu konsep tentang terciptanya masyarakat belajar di sekolah, yakni proses belajar membelajarkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara masyarakat sekolah dengan masyarakat di luar sekolah.  Anggota komunitas belajar akan selalu “haus” untuk belajar meningkatkan kualitas diri.
Inti dari reformasi sekolah adalah Lesson Study. Saat ini Lesson Study telah terjadwal dalam Program Tahunan inservice training guru. Tapi kalau guru hanya mengandalkan  peningkatan kemampuannya melalui kegiatan tersebut, dianggap masih kurang. Tukar pikiran tentang pembelajaran secara informal sepanjang waktu yang tidak terjadual adalah sangat penting dan lebih banyak memberikan pengaruh kepada peningkatan keprofesionalan guru.  Oleh karena itu guru harus belajar sepanjang masa. Guru akan dapat menemukan fakta setelah banyak belajar. Menjawab pertanyaan siswa tidak cukup hanya dengan “menurut buku”. Siswa akan jauh lebih tertarik jika guru dapat menunjukkan banyak fakta, termasuk dari kegiatan sehari-hari. Dengan demikian tertarik tidaknya siswa terhadap pembelajaran tergantung kemampuan guru.

 

F.  PRO KONTRA KOLABORATIF
Terdapat orang yang menentang proses pembelajaran kolaboratif di Jepang. Alasannya, jika anak kelompok A mengajar kelompok C, lalu kegiatan A sendiri bagaimana? Memang hal itu akan membuat kelompok C yang tidak menguasai materi pelajaran menjadi lebih menguasai dan mereka menjadi senang. Namun belum tentu kelompok A yang telah menolongnya juga senang. Pendapat ini dimentahkan karena berdasar hasil penelitian ditunjukkan bahwa penguasaan siswa A menjadi lebih meningkat dibandingkan jika tidak dilakukan kolaboratif. Meskipun dirancang untuk meningkatkan C, tetapi dampaknya juga meningkatkan kemampuan kelompok A. Hasil ini juga didukung oleh penelitian di kedokteran. Menurut penelitian ini, oleh karena C senang dan berterimakasih kepada A, maka otak A mengeluarkan dopamin. Zat ini menyebabkan si A terus mengingat apa yang telah dipelajarinya. Oleh karena si C senang, C juga mengeluarkan dopamin sehingga C juga dapat mengingat terus apa yang pernah dipelajarinya. Karena itu hubungan yang baik antara guru-siswa juga harus dibangun agar dapat saling mengeluarkan dopamin. Hubungan yang baik antara guru-siswa juga dapat meningkatkan hubungan emosional guru-siswa.  

 

Untuk mengatasi rendahnya mutu sekolah di Jepang, terjadi perdebatan yang dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
a.          Kelompok persaingan, yaitu mereka yang ingin melakukan latihan soal terus menerus untuk meningkatkan kemampuan anak. Mereka yang berpikir begitu menganggap bahwa persainganlah yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan anak/sekolah.  Menurut pendapat ini,  apabila persaingan ditingkatkan maka masing-masing anak akan berusaha  memecahkan soal sendiri.
b.          Kelompok kerjasama, yaitu mereka yang mempunyai pemikiran berlawanan dengan kelompok persaingan. Kelompok ini berpendapat bahwa  siswa yang belajar sesuatu harus berhubungan dengan pihak lain dan melalui proses belajar dengan anak/siswa lain. Konkritnya jika ada siswa belum mengetahui sesuatu, tetapi mau meminta pendapat orang lain, atau mendengar dari orang lain, maka dia akan dapat meningkatkan kemampuan diri sendiri sehingga mencapai tahapan yang lebih tinggi. Proses ini tidak akan terjadi jika ia belajar sendirian. Pendapat Vighotsky menyatakan bahwa tingkat yang dicapai oleh diri sendiri ada pada step 1 (bawah) dan ini masih bisa ditingkatkan ke step berikutnya (step2) yang lebih tinggi. Untuk melompat ke step berikutnya (step 2) butuh bantuan orang lain.  Kenaikan penguasaan  dari step I ke step 2 yang tidak melalui bantuan orang lain sebetulnya belum mencapai step berikutnya. 
G.  SEPULUH MENIT PERTAMA TERBUANG PERCUMA
            Menurut Sato, Masaaki (2006), 10 menit pertama disaat kelas dimulai merupakan saat dimana motivasi siswa tinggi. Motivasi siswa akan terus menurun seiring dengan berjalannya waktu. Oleh kerena itu pada awal pembelajaran guru hendaknya segera menyampaikan materi pembelajaran. Apabila di waktu yang baik itu guru menyampaikan appersepsi, atau berbasa basi, maka sepuluh menit pertama yang sangat berarti itu akan lewat begitu saja dengan percuma. Ketika pelajaran akan dimulai, motivasi siswa sudah menurun.
            Selama proses pembelajaran hendaknya guru memperhatikan perubahan-perubahan ekspresi siswa, mimik, tingkah  laku, kata-kata yang keluar, dan segala sesuatu yang tidak diungkapkan siswa tetapi memiliki arti penting untuk proses berlangsungnya saling membelajarkan. Maka sebaiknya guru memiliki indera keenam agar dapat menangkap pesan yang disampaikan siswa tanpa kata-kata. Dengan kata lain guru hendaknya mendalami psikologi siswa.
H.  GURU MAU MEMBUKA KELAS
            Bagi guru sendiri, belajar dari sesama guru merupakan ciri dari terbentuknya komunitas belajar. Mengingat tugas guru adalah melakukan proses pembelajaran, maka situasi saling membelajarkan itu hendaknya dilakukan di dalam suasana proses pembelajaran di kelas yang nyata, yakni sekelompok guru melakukan pengamatan dalam proses pembelajaran dan dilanjutkan dengan pemberian balikan setelah proses pembelajaran usai. Jadi dalam meningkatkan proses pembelajaran para guru melakukan kolaborasi.
            Untuk dapat melakukan kolaborasi, guru hendaknya bersedia membuka kelas yaitu: proses pembelajaran yang dilakukan diamati oleh guru lain, bahkan oleh orang tua siswa dan masyarakat. Kolaborasi itu dilaksanakan sejak melaksanakan perencanaan (plan) yaitu menyusun rencana pembelajaran (RP),  melakukan pembelajaran (do) yang diamati oleh pengamat (see) dan diakhiri dengan melakukan refleksi untuk mendapatkan masukan dalam rangka peningkatan pembelajaran lebih lanjut. Kegiatan plan, do, see ini dikenal sebagai Lesson Study. Di dalam Lesson Study terjadi proses belajar membelajarkan antara guru-guru, guru-siswa, guru-masyarakat, siswa-siswa. Jadi Lesson Study merupakan tiang dari tegaknya learning community. Ini tidak berarti bahwa proses belajar membelajarkan hanya berlangsung ketika LS berlangsung. Menurut Ito (2006), kegiatan belajar membelajarkan di luar acara resmi itulah justru yang banyak memberikan manfaat bagi pengembangan profesi guru.
B.      Monitoring dan Evaluasi Lesson Study
1.       Prinsip Monitoring dan Evaluasi
            Sejalan perkembangan jaman, gaung tuntutan keterbukaan makin menggema. Pertanggung jawaban dan akuntabilitas merupakan dua kata yang tak dapat dipisahkan dari tuntutan keterbukaan tadi. Pada kondisi seperti ini, pihak yang dituntut (biasanya terkait dengan proyek atau program) membutuhkan piranti atau alat yang ampuh dan dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah model Monitoring dan Evaluasi (MONEV) yang sederhana, gampang digunakan tetapi ampuh untuk mengumpulkan data empiris yang valid sehingga obyektifitas kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan.
            Model MONEV yang konvensional lebih mengandalkan kepada ‘orang luar’ (pakar orang luar proyek/program) yang menilai kinerja ‘orang dalam’ (proyek dan staf proyek) dengan menggunakan prosedur standar, alat-alat dan indikator yang sudah ditentukan sebelumnya. Sering terjadi, yang dinilai merasa dicari-cari tingkat kesalahannya, menyebabkan penyajian data fiktif atau ‘asal Bapak senang’ yang tentu saja tidak akan menjamin keterbukaan. Tambahan pula, orientasi terhadap penilaian input yang biasanya dianut oleh MONEV yang konvensional cenderung tidak memberikan manfaat bagi yang dinilai. MONEV hanya mencoba memuaskan yang melakukan, tidak memuaskan yang dinilai.
            Dalam dekade terakhir dikembangkan model MONEV yang melibatkan semua pihak, berupa suatu kolaborasi ‘outsider’ dan ‘insider’, yang secara bersama-sama bagaimana kemajuan kegiatan/program harus dinilai, dan bagaimana tindak lanjut langkah perbaikannya (corrective action). Model ini tidak mencari-cari kesalahan, tetapi memberdayakan, agar dapat dicarikan corrective action sehingga proyek dapat berjalan dengan baik, transparan, sahih dan obyektif serta mampu memuaskan semua pihak yang terkait. Model MONEV yang lebih dikenal dengan Monitoring dan Evaluasi secara Partisipatif yang berasal dari istilah bahasa Inggris Participatory Monitoring and Evaluation.
2.       Aspek yang dimonitoring dan dievaluasi
            Aspek yang dimonitoring dan dievaluasi dalam lesson study meliputi siklus lesson study, dampak lesson study pada siswa, guru, MGMP dan sekolah,  hasil belajar siswa dan tindak lanjut lesson study. Siklus lesson study meliputi tahap plan-do-see. Tahap plan (perencanaa) meliputi kegiatan guru selama guru dan produk (perangkat pembelajaran), penentuan research lesson, jadwal dan pembagian tugas, partisipasi guru, nara sumber dan pihak lain. Tahap Do-see (pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran) meliputi aktivitas observer, keterlaksanaan hasil kegiatan Plan, dan pencapaian tujuan lesson study. Refleksi meliputi proses refleksi dan tindak lanjut dari hasil pengamatan selama Do-see untuk kegiatan lesson study berikutnya.
            Dampak lesson study pada siswa meliputi motivasi belajar, keberanian untuk mengungkapkan pendapat, mengajukan dan menjawab pertanyaan, keterampilan melaksanakan kerja ilmiah, keingintahuan terhadap gejala alam yang ada di sekitar, dan cara berpikir siswa. lesson study dikembangkan dalam forum MGMP per bidang study, baik di tingkat kabupaten/wilayah maupun sekolah.  Dampak lesson study pada guru meliputi kemampuan merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, kemampuan penguasaan bahan ajar, kemampuan menggunakan media pembelajaran, kemampuan membelajarkan keterampilan kerja ilmiah, sharing tentang inovasi pembelajaran, dan keterbukaan dalam mengungkapkan kesulitan dan menerima perbaikan pembelajaran.
            Guru yang ikut serta dalam MGMP, selanjutnya mengimplementasikan lesson study di tiap sekolah. Implementasi lesson study di sekolah melibatkan guru-guru dari berbagai bidang study dalam menggali potensi belajar siswa. Dengan demikian, guru-guru di sekolah dapat membangun masyarakat belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang study dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
            Indikator kualitas pendidikan adalah hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas, kemampuan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran, dan hasil tes. Hasil belajar merupakan umpan balik bagi guru untuk meningkatkan kualits pembelajaran di kelas.
3.       Indikator Keberhasilan
Indikator berperanan sentral didalam proses MONEV. Indikator bisa kuantitatif, tetapi bisa juga kualitatif, dan menyediakan suatu jalan untuk menunjukkan dan mengukur perubahan atau kecenderungan apa yang terjadi. Oleh karena itu indikator mempunyai fungsi untuk 1) memperjelas apa, bagaimana dan dimana yang akan diukur, 2) menciptakan kesepakatan / konsensus untuk menghindari interpretasi yang salah dan menghindarkan diskusi selama pelaksanaan kegiatan, dan 3) membangun dasar bagi MONEV. Indikator merupakan acuan di dalam penyusunan daftar pertanyaan/apa yang akan ditanyakan.
Dengan demikian, maka Indikator seyogianya dapat menentukan kuantitas (jumlah dalam satuan ukuran seperti berat, panjang, lebar, isi), kualitas (menunjukkan mutu seperti unggul, baik, buruk, dan sebagainya.), target / kelompok sasaran (siapa yang akan di nilai, obyek yang akan di ukur, biasanya merupakan sumber informasi), waktu / periode (kapan dilakukan), dan tempat (dimana akan dilakukan MONEV)
            Indikator keberhasilan yang digunakan dalam Lesson Study mencakup peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa, peningkatan kemampuan guru dalam penguasaan bidang studi, membelajarkan siswa, menciptakan suasana belajar yang kondusif, dan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, dan terbentuknya masyarakat belajar di antara guru dengan guru lain. Indikator keberhasilan dapat dibandingkan dengan rambu-rambu pelaksanaan lesson study yang tertuang dalam panduan pelaksanaan lesson study.
            Keterkaitan indikator keberhasilan dengan aspek yang diukur dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Pengukuran Apa yang Diukur Indikator
Output Usaha Pelaksanaan Kegiatan
Hasil (outcomes) Efektivitas Penggunaan output, manfaat yang berkelanjutan
Dampak Perubahan Perbedaannya dengan masalah awal

 

4.       Instrumen
            Pelaksanaan MONEV pada kegiatan lesson study dilakukan memantau dan mengevaluasi kegiatan lesson study serta dampaknya bagi pengembangan  profesi guru dan belajar siswa. Instrumen yang digunakan dalam MONEV adalah pedoman observasi, tes dan angket. Pedoman observasi dimaksudkan untuk menjaring data pelaksanaan lesson study. Pedoman observasi digunakan pada saat Plan-Do-See dan Refleksi.  Contoh pedoman observasi dapat dilihat pada lampiran.  Tes dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dari guru yang ikut serta dalam program lesson study. Tes dapat dilakukan pada awal dan akhir pembelajaran (pretes dan postes), atau di akhir pembelajaran saja (postes). Angket dimaksudkan untuk memperoleh data respon siswa, guru dan sekolah sebagai dampak pelaksanaan program lesson study.
5.       Analisis Data
            Analisis data dilakukan berdasarkan jenis data. Analisis data hasil observasi Plan-Do-See dan refleksi dilakukan secara kualitatif dengan pemaparan proses pelaksanaan kegiatan lesson study. Analisis data  hasil tes dilakukan secara kuantitatif atau kualitatif bergantung pada pelaksanaan tesnya. Jika tes dilakukan dengan pada akhir pembelajaran saja (postes) maka analisis data dilakukan dengan mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dan ketuntasan belajar (mastery learning).  Jika dilakukan pretes dan postes, maka analisis data dilakukan dengan  analisis gain score dengan menentukan gain score ternormalisasi dengan  rumus sebagai berikut.

                        % <G>

<g> = 

               % <G>max

 

                         (% <Sf> - % <Si> )
         <g>   =
                            ( 100 - % <Si> )                                                            (Hake, 1999)
Keterangan :  <g> adalah gain score ternormalisasi
            Sf  adalah skor rerata post-test
                  Si  adalah skor rerata pre-test

 

Gain score ternormalisasi <g> merupakan metode yang cocok untuk menganalisis hasil pre-test dan post-test (Hake, 1999).  Gain score ternormalisasi <g> juga merupakan indikator yang lebih baik dalam menunjukkan  tingkat efektivitas perlakuan daripada perolehan skor atau post-test  (Hake, 2002). Tingkat perolehan gain score  ternormalisasi dikategorikan ke dalam tiga kategori, yaitu ;
g-tinggi      ;      dengan  (<g>) > 0,7
      g-sedang     ;     dengan  0,7 ≥ (<g>) ≥ 0,3
g-rendah      ;    dengan  (<g>)  < 0,3
           
            Data yang berasal dari angket dianalisis secara sederhana secara kualitatif dan mengkuantifikasi data kualitatif. Hal ini dilakukan dengan menghitung prosentase dan rerata perolehan skor.
6.       Rekomendasi
            Hasil analisis data memberikan informasi keterlaksanaan lesson study dan dampaknya bagi siswa, guru dan sekolah untuk mempertahankan keberlangsungan program lesson study.. Informasi ini menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi atau masukan bagi pelaksana lesson study untuk memperbaiki kinerja lesson study. Kinerja tersebut mencakup kinerja dari sisi input, proses dan outpus lesson study. Rekomendasi juga difokuskan pada dampak pelaksanaan lesson study pada siswa, guru dan sekolah untuk pencapaian program lesson study.
C.      Penutup
            Lesson study dilaksanakan secara berkesinambungan dalam suatu rangkaian siklus. Untuk mengukur ketercapaian tujuan dan menjamin keberlanjutan program lesson study maka perlu dimonitor dan dievaluasi dengan model Monitoring dan Evaluasi secara partisipatif. Model ini memanfaatkan MONEV untuk meningkatkan kinerja, dampak dan wahana pembelajaran bagi siswa, guru dan sekolah.  Model ini juga tidak dilakukan untuk mencari kesalahan tetapi untuk memberdayakan kegiatan, agar dapat dicarikan corrective action sehingga lesson study dapat berjalan dengan baik, transparan, sahih dan obyektif serta mampu memuaskan semua pihak yang terkait

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King